Minggu, 01 Desember 2019

Pendalaman Terapi Shalat Bahagia



Sebelum melakukan training dianjurkan untuk membaca buku 60 menit terapi sholat bahagia yang ditulis Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag. Training ini sebenarnya dilakukan selama dua hari berturut-turut jika memang belum membaca buku yang dianjurkan tersebut. Sebelum membahas tentang training terapi sholat bahagia saya akan sedikit menjelaskan tentang sang pembicara yaitu Prof Ali Aziz, beliau telah melakukan terapi sholat bahagia di banyak tempat, bukan hanya di Indonesia tetapi di luar Indonesia pula. Beliau menceritakan ketika di Bangladesh training dilakukan selama seminggu karena sehari hanya ruku’ sehari sujud hingga seminggu persis selesai, sehingga hasilnya pun luar biasa. Banyak sekali orang-orang penting yang telah ikut bergabung dan mereka mendalami training ini sehingga mendapatkan hasil yang memuaskan. Prof Ali Aziz adalah guru besar di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Beliau lahir di Lamongan pada tanggal 9 Juni 1957. Beliau telah berdakwah diberbagai negara di Asia maupun Eropa.
Didalam terapi sholat bahagia ini kita diajarkan bahwa semua masalah itu bisa diatasi dengan sholat. Seberat apapun masalah itu pasti ada jalan keluarnya. Kita pasti perna mendengar petikan ayat Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 286 yang artinya Allah tidak memberi cobaan kepada hambanya diluar batas kemampuannya. Dari sini kita semua diajarkan bagaimana shalat yang baik dan mendapatkan manfaat dari sholat tersebut.
Maksud dari kata pendalaman adalah kita telah membaca buku yang disebutkan tadi kemudian kita dalami atau dipraktekkan. Arti dari terapi adalah cara sholat secara detail, jadi setelah membaca maka kita lebih mendalami bagaimana sholat secara detail itu. Kemudian sholat secara T2Q ( Tumakninah, tawakkal dan qana’ah) sehingga menghasilkan kebahagiaan. Didalam adzan terdapat bacaan حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ  dan  حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ artinya adalah mari kita sholat dan mari menuju kemenangan. Bila diartikan lebih rinci maksudnya adalah mari kita sholat dan mari kita bahagia. Jika mari menuju kemenangan seolah-olah seperti kita sedang dalam perang sehingga lebih cocok untuk kata bahagia. Tidak ada agama yang menyuruh kita untuk menjadi baik kecuali Islam, kita dipanggil untuk melaksanakan sholat sehari 5 kali.
Rencana Allah itu lebih baik dari rencana kita sendiri, meskipun kita diberi sakit oleh Allah pasti ada sesuatu tersendiri yang Allah tulis untuk kebaikan kita. Misalkan ketika sakit kemudian kita pergi ke dokter dan tiba-tiba kita menemukan dompet yang terjatuh di rumah sakit. Setelah menghubungi orang yang memiliki dompet tersebut kemudian kita diberi uang yang nominalnya lumayan. Dari sakit itu tadi Allah hanya memberi skenario untuk kita mendapat rezeki yang tidak diduga-duga.
Terdapat hadits yang diriwayatkan oleh At-Thabrany “ Barang siapa tidak senang dengan keputusan dan takdir-Ku maka hendaknya ia segera mencari tuhan selain aku.” Maksud dari hadits tersebut adalah bahwa kita harus mensyukuri apa pun yang telah diberi oleh Allah. Meskipun rencana Allah awalnya membuat kita sedih yakinlah bahwa itu hanyalah skenario untuk kebahagiaan kita sendiri. Ada pula hadits diriwayatkan oleh Abu Ya’la “ Barang siapa tidak beriman pada takdir-Ku enak atau tidak enak, maka Aku tidak akan mengurusinya lagi” maksud nya adalah barang siapa yang tidak menerima takdir Allah maka Allah tidak akan menggurusinya lagi. Tidak menerima takdir itu ialah mengeluh, jadi kita tidak boleh mengeluh terhadap apa yang sudah diberikan oleh Allah. Bentuk dari mengeluh adalah ekspresi tidak menerima takdir Allah. Kalau sedang ada masalah janganlah mengeluh tetapi curhatlah kepada Allah. Karena sebaik-baik tempat curhat adalah Allah. Kita sudah benar jika curhat kepada Allah karena yang bisa mengatasi semua masalah hanyalah Allah SWT. Percuma jika kita curhat ke orang lain, mereka juga tidak bisa merubah takdirmu dan belum tentu masalahmu akan selesai, beda kalau kita curhat kepada Allah. Kita hidup harus berani menghadapi masalah.
Do’a itu belum tentu dikabulkan langsung bisa saja kita berdo’a sekarang tetapi dikabulkan tahun depan. Ibarat ketika masih kecil kita minta sepeda motor kepada ayah kita, pasti ayah tidak mengizinkan karena belum saatnya kita memiliki sepeda motor dan anak kecil belum boleh untuk mengendarainya. Seperti halnya doa kita, Allah mengabulkan doa kita 5 tahun lagi itu karena Allah yang tau kapan waktu yang pas untuk kita menerima permintaan tersebut.
Setiap orang pasti punya masalah yang besar, semua masalah itu bisa diselesaikan atau bisa diatasi dengan kita berdo’a dan meminta kepada Allah. Sebesar apapun masalah yang dihadapi bisa kita ubah dengan cara mengubah mindset terlebih dahulu. Anggap saja semua masalah itu adalah awal dari kebahagiaan, ini hanyalah proses saja dan nikmatilah. Masalah hidup itu memang berat tapi kalau kita punya mindset seperti saya yakin Ya Allah ini masih koma belum berakhir, saya yakin Ya Allah suatu saat berubah. Jika seperti ini maka akan ringan dari pada Ya Allah berat sekali Ya Allah. Jadi berlatihlah untuk berfikir positif dalam segala hal meskipun kita diberi masalah maka berfikir positiflah bahwa semua akan berakhir indah. Happy saja menghadapi masalah.   
Ketika sholat yang kita lakukan adalah berdiri, rukuk, I’tidal, sujud, duduk dan tasyahud. Di dalam terapi sholat bahagia ada beberapa doa yang bisa diringkas yaitu subhan, turut, hadir, masjid, aksi dan sosial. Maksudnya adalah berdiri subhan, rukuk turut, I’tidal hadir, duduk masjid, dan tasyahud sosial. Lebih rincinya yaitu
1.      Berdiri kata kuncinya yaitu subhan (Syukur, bimbingan, ketahanan iman) do’anya yaitu “Wahai Allah aku bersyukur atas semua nikmat-Mu, Bimbinglah aku dan keluarga agar tetap dijalan yang benar, Berilah aku ketahanan iman untuk melawan hawa nafsu agar selamat dari kesesatan murka-Mu.”
Disini kita dianjurkan untuk selalu bersyukur atas apa yang telah Allah berikan kepada kita semua, banyak sekali nikmat yang telah Allah berikan kepada kita tetapi kita tidak sadar dan hanya memikirkan yang jauh dari kebahagiaan kita. Seperti kita makan, terkadang manusia tidak sadar diluar sana banyak yang mereka harus berjuang terlebih dahulu sebelum mendapatkan makanan. Kita yang hidupnya serba ada malah mensia-siakan itu semua. Itulah bagian dari tidak bersyukurnya kita. Yang kedua adalah bimbingan, didalam bimbingan ini kita meminta kepada Allah agar senantiasa tidak melupakan Allah dan selalu pada jalan benar. Terkadang sebagian orang jika sudah dalam keadaan yang bahagia sering kali lupa kepada Allah. Dari sini kita dianjurkan agar selalu mengingat Allah, padahal yang memberikan kita nikmat adalah Allah semata maka seharusnya kita juga kembali berterimah kasih kepada Allah. Yang ketiga adalah ketahanan iman, susah sekali untuk kita mempertahankan iman. Syetan ada dimana-mana dan dengan ini kita harus bisa melawat godaan dari syetan. Kita harus bisa menahan hawa nafsu agar selamat dari kesesatan.
2.      Rukuk kata kuncinya yaitu turut (tunduk, menurut) do’anya yaitu “ Wahai Allah aku tunduk membungkuk kepada kehendak-Mu. Aku bertasbih dan menyerahkan hidup- mati, sehat- sakit, kaya- miskin, dan semua persoalan kepada-Mu. Aku menurut kepada semua perintah-Mu. Ampunilah dosa-dosaku. “
Kita sebagai hamba Allah harus senantiasa tunduk kepada kehendak Allah, seperti yang sudah saya sampaikan tadi bahwa kita harus menerima segala sesuatu yang telah ditakdirkan oleh Allah, Allah pasti memberi yang terbaik untuk kita semua maka dari itu kita harus patuh dan tunduk kepada sang ilahi. Kemudian menurut yaitu kita harus nurut apa saja perintah dari Allah karena kita ini hidup hanya untuk menerima perintah dari Allah. Apa saja yang dianjurkan maka kerjakanlah dan apa saja yang dilarang maka tinggalkanlah.
3.      I’tidal kata kuncinya yaitu hadir ( hak pujian, takdir) do’anya yaitu “ hanya engkau yang berhak dipuji. Ampunilah aku karena terlintas mengharap pujian manusia. Semua hal terjadi atas takdir-Mu. Aku ridla dan ikhlas menerimanya.”
Disini kita diajarkan untuk selalu memuji Allah karena bagaimana pun hanya Allah yang berhak dipuji dan disembah. Semua ini adalah takdir dari Allah dan skenario yang dibuat oleh Allah kita hanyalah manusia yang wajib melaksanakan segala perintahnya dan menjauhi larangan Allah.
4.      Sujud kata kuncinya yaitu masjid (maaf, sinar, jiwa dan raga) do’anya yaitu “ maafkan dosa-dosaku, bapak-ibu dan keluargaku. Sinarilah hati, lidah, mata, dan telingaku agar selalu berbuat yang engkau ridlai. Jiwa dan ragaku dalam kekuasaan-Mu. Aku serahkan hidup- mati, sehat- sakit, kaya- miskin dan semua persoalan kepada- Mu.”
Ketika sujud sebenarnya kita bisa mencurahkan semuanya dan berdo’a kepada Allah. Disini kita meminta maaf atas segala dosa yang telah diperbuat. Karena manusia pasti mempunyai kesalahan meskipun dia sebaik apapun pasti memiliki dosa. Maka dari itu kita harus memohon ampun kepada Allah.
5.      Duduk antara dua sujud kata kuncinya yaitu aksi (ampunan, kasih, sejahtera, iman) do’anya yaitu “Wahai Allah berilah aku ampunan, kasih, sejahtera, dan iman”
Disini juga kita memohon ampunan atas apa yang telah diperbuat dan meminta kasih kepada Allah karena kepada siapa lagi kita memohon kasih kalau bukan kepada Allah. Kita juga meminta kesejahteraan dan kekuatan iman agar selalu dekat dengan Allah.  
6.      Tasyahud kata kuncinya yaitu sosial (sholawat, persaksiaan, tawakal) do’anya yaitu “Sholawat dan salam untuk Nabi SAW. Berikan aku kekuatan menyontoh akhlaqnya. Aku bersaksi tiada tuhan selain Engkau dan Muhammad adalah utusan-Mu. Jadikan syahadat pegangan dan penutup hidupku. Aku serahkan hidup- mati, sehat- sakit, kaya- miskin dan semua persoalan kepada- Mu.”
Do’a tersebut tidak boleh diucapkan hanya direnungkan dalam hati, ketika selesai membaca bacaan sholat. Dengan kita mengamalkan beberapa do’a tersebut maka kita insyaallah dapat khusuk dan dapat mengambil manfaat dari sholat. Dan diharapkan sholat dengan kebahagiaan. Tujuan dari sholat adalah kokohnya mindset tawakal, tumkaninah dan qona’ah sedangkan kesembuhan, rizki dan sebagainya adalah bonus semata sekalipun itu sangat kita butuhkan.
Ketika dalam renungan do’a itu tadi kita bisa menyisipkan masalah-masalah yang tengah dihadapi dengan kita bercerita dan curhat kepada Allah. Kita juga bisa menyisipkan apa saja nikmat yang telah Allah berikan kepada kita semua agar kita bersyukur atas apa yang telah Allah beri kepada kita.
Dengan sholat bahagia juga dapat menyelesaikan beberapa masalah penyakit. Di dalam sholat banyak sekali manfaat kesembuhan yang bisa didapatkan. Seperti rukuk, disaat rukuk banyak sekali manfaat kesembuhan yang didapatkan contohnya mencegah jantung koroner, menjaga sirkulasi darah ke otak besar, keseimbangan tulang keras dan rawan, memelihara syaraf tulang sentral, menjaga fungsi otot (rangka), menjaga fungsi otot (polos), menjaga otot dalam (jantung). Disetiap gerakan sholat semua memiliki manfaat jika kita dapat melaksanakannya dengan benar tidak asal-asalan. Rukuk itu seharusnya lurus, biasanya kebanyakan orang mereka tidak benar dalam melaksanakan rukuk. Padahal jika kita melakukannya dengan benar maka banyak sekali manfaat yang didapatkan. Hal tersebut sudah dibuktikan oleh beberapa pakar dalam bidang kesehatan.

Selasa, 24 September 2019

Logistik Dakwah


“LOGISTIK DAKWAH “


Oleh:
Valinta Faiza Rochmah (B94219100)
Kelas D3
Dosen Pengampu:
Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Asisten Dosen I:
Ati’ Nursyafa’ah, M.Kom.I
Asisten Dosen II:
Baiti Rahmawati, S.Sos
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN AMPEL SURABAYA
2019


KATA PENGANTAR


Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan manusia dan mengajarinya. Dia-lah Zat yang kita sembah, tempat kita memohon pertolongan dan memohon ampunan-Nya. Shalawat serta salam semoga tercurahkan ke Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga dan para sahabatnya yang merupakan ahli keutamaan dan kebijaksanaan.
Saya mengucapkan syukur Alhamdulillah karena dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik dan tepat waktu. Tidak lupa saya mengucapkan terima kasih untuk semua pihak yang telah membantu serta memberi saran atau kritik. Terima kasih pula kepada dosen pembimbing mata kuliah ilmu dakwah Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M. Ag yang telah membimbing kami dalam penyusunan makalah ini.
Makalah ini berisi tentang logistik dakwah, didalam makalah ini akan dijelaskan pemaparan tentang logistik, dakwah, dan logistik dakwah. Saya berharap semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi pembaca.
Surabaya, 22 Agustus 2019

                                                                                        Penulis



DAFTAR ISI






                                                                      
                                                                      



BAB I

PEMBAHASAN


A.    Pengertian Logistik Dakwah

 Dari segi bahasa (etimologi) dakwah berasal dari kata دعوة - يدعو - دعا yang berarti mengajak, menyeru, memanggil, mengundang, mendorong ataupun memohon[1]. Achmad Mubarok (2014) menjelaskan istilah dakwat atau dakwatun digunakan untuk arti undangan, ajakan, dan seruan yang kesemuanya menunjukkan adanya komunikasi antara dua pihak dan upaya mempengaruhi pihak lain[2]. Sedangkan logistik secara bahasa berasal dari kata “logos” yang berarti ilmu. Menurut Ronald H. Ballou (1992) logistik adalah proses merencanakan, menerapkan dan mengendalikan yang efektif dan efisien dari aliran dan penyimpangan bahan baku, persediaan dalam proses, dan barang jadi yang terhubung dengan informasi dari titik asal ke titik konsumsi, untuk memenuhi kebutuhan para pelanggan[3]. 
Setelah diambil dari beberapa kata tersebut maka kita dapat menyimpulkan bahwa logistik dakwah adalah sesuatu yang diperlukan dalam kegiatan berdakwah agar berjalan sesuai tujuan yang ingin dicapai. Logistik dakwah itu sendiri mencakup banyak mulai dari sarana prasarana, informasi, ruangan, dana, alat transportasi serta beberapa hal yang dibutuhkan dalam kegiatan berdakwah.
Didalam berdakwah ada tiga aspek penting yaitu subjek dakwah, materi dakwah dan metode dakwah yang menunjukkan betapa pentingnya kegiatan dakwah sepanjang masa dalam berhadapan dengan era yang semakin berkembang ini[4]. Apalagi dizaman yang serba modern sekarang ini, dakwah menjadi hal yang dirasa perlu pemekaran metodenya sesuai dengan tuntutan zaman.
Da’i atau pendakwah harus memiliki ilmu yang benar dan juga manhaj yang benar, sesuai dengan Al- Quran dan Sunnah Nabi Muhammad SAW. Kesuksesan seorang da’i adalah jika sudah mencapai ridha Allah, baik dakwahnya diterima oleh manusia ataupun tidak[5].
Dakwah dapat dilakukan ditempat yang baru meskipun tempat itu sangat terbatas dan terpelosok, hal tersebut dikarenakan didukung oleh dana. Didalam berdakwah tentu ada metodenya agar dakwah yang kita lakukan dapat diterima dan bermanfaat dikalangan masyarakat. Contohnya jika kita berdakwah di kalangan anak milenial maka isi dari dakwah dan bahasa yang kita gunakan adalah bahasa milenial. Kita ikut terjun dalam dunia milenial terlebih dahulu agar kita dapat ikut memahami bahasa milenial dan apa saja yang dibutuhkan generasi milenial. Dengan begitu kegiatan dakwah tidak terasa jenuh dan membosankan. Dan audiens dapat mengambil manfaat dari dakwah yang disampaikan.
Didalam logistik dakwah juga bisa memberikan dakwah atau pesan dengan bertatap muka dimana saja. Bisa juga kita menyampaikan dakwah didalam bus, disuatu ruangan, atau ditempat lain yang bisa dilakukan bersamaan dengan aktivitas lain. Sebenarnya kita juga dapat menyampaikan dakwah tidak dengan bertatap muka[6].
Kita bisa menggunakan ponsel pintar, apalagi jaman sekarang orang lebih gemar memegang ponsel dan menghabiskan waktunya dengan si ponsel pintar. Kita dapat berdakwah di media sosial, seperti di youtube, instagram, ataupun membuat grub di whattsapp dan memberikan dakwah. Dengan begitu orang-orang tidak perlu jauh-jauh untuk  pergi ke suatu majelis dakwah tetapi bisa mendengarkan, melihat dan bertanya melalui media sosial. Atau bisa juga dengan membuat aplikasi khusus untuk dakwah, jadi lebih mudah menyampaikan dakwah dan masyarakat juga lebih gampang untuk menanyakan hal seputar islam yang belom diketahui dan bisa berdiskusi.

B.     Etika Normatif Logistik Dakwah

Sebagaimana yang kita ketahui bahwa Islam adalah agama dakwah, dengan kata lain bahwa keberadaannya adalah dengan disebarluaskan melalui kegiatan dakwah. Tujuan dakwah Islam adalah memberi penjelasan kepada umat Islam untuk mengambil segala ajaran Allah SWT yang terkandung di dalam Al-Quran dan sunnah Nabi Muhammad SAW sebagai pedoman hidup[7].
Dakwah itu ibarat bola lampu, yang memberkan cahaya dan menerangi jalan kehidupan menuju lebih baik. Dia menerangi setiap umat dari kegelapan menuju terang, dari kebatilan menuju yang haq[8]. Dakwah adalah hal yang sangat penting dalam umat Islam. Dakwah menjadi obat bagi manusia ketika dilanda musibah, rapuhnya akal, kerusuhan, kecurangan, dan beberapa tindakan tidak terpuji lainnya.
Dakwah adalah kegiatan memanggil, mengajak, menyeru, mendorong orang untuk beriman dan taat kepada Allah SWT. Sebelum kita melakukan dakwah hendaknya kita menyiapkan persiapan-persiapan yang matang baik itu mental, spiritual, dan segala hal yang diperlukan ketika berdakwah[9]. Dalam berdakwah tentunya kita harus mempersiapkan materi, strategi, metode dan juga kelancaran saat kegiatan dakwah. Kelancaran kegiatan dakwah tidak luput dari kesiapan yang matang dan aspek pendukungnya yaitu berupa logistik dakwah.
Logistik dakwah adalah suatu hal yang harus ada dalam kegiatan dakwah. Setiap ada kegiatan dakwah pasti tidak luput dari logistik dakwah. Tetapi buku yang menguraikan tentang logistik dakwah masih sedikit. Kebanyakan penulis hanya menguraikan mengenai metode, strategi dan lain sebagainya. 
Jika logistik dakwah digunakan maka ia harus mengikuti etika Islam. Tujuan yang awalnya menuju kebaikan akan menjadi buruk jika dilakukan dengan cara yang buruk, barang yang haram, tempat yang najis dan sebagainya. Barang akan dikatakan bermutu jika hakikatnya halal, cara mendapatkannya halal dan memberikan manfaat. Dan itu pula kriteria dari logistik dakwah[10].
Didalam logistik dakwah harus ada petugas yang bukan hanya memiliki keahlian dalam hal logistik tetapi juga bisa menjaga kualitasnya dari aspek halal, benar, dan manfaat. Karena percuma saja jika dia menguasai logistik tetapi mendapatkan barangnya dari hal yang haram, dan tidak memberikan manfaat.
Ada lima kriteria kehalalan logistik dakwah :
1.      Tempat yang bersih tidak najis.
Tempat yang digunakan untuk berdakwah harus bersih, tidak kotor. Seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa dakwah bisa dilakukan dimana saja asalkan tempatnya bersih dan memungkinkan untuk dijadikan majlis dakwah.
2.      Logistik dakwah bukan sesuatu yang membahayakan secara langsung maupun  tidak langsung
 Maksudnya adalah tidak menimbulkan kerusakan barang/jasa, kerusakan iman, kerusakan akal, kerusakan jiwa/ nyawa.  
3.      Logistik dakwah tidak mencemari lingkungan apalagi merusaknya.
Lingkungan ketika berdakwah juga harus dijaga kita tidak boleh membuat kotor, dan menyebabkan kerusakan lingkungan. Baik itu di daratan, lautan, maupun udara.
4.      Tidak merusak moral atau melanggar norma masyarakat.
Ketika berdakwah tidak boleh ada unsur pornografi, pencemaran nama baik dan juga mengganggu norma hukum ataupun norma masyarakat yang ada.
5.      Memiliki nilai guna.
Dakwah yang dilakukan harus bermanfaat bagi pendengar baik dari segi apapun, jika perlu juga harus memiliki nilai ekonomis yaitu dapat bermanfaat bagi semuanya. Jika ada sarana atau barang yang rusak harus segera diperbaiki atau diganti[11].

C.    Pengadaan Logistik Dakwah

Dalam pengadaaan logistik dakwah dapat berupa barang/ jasa. Barang/ jasa ada kaitannya dengan kepemilikan. Dalam Islam bahwa kepemilikan ada yang bersifat pribadi dan publik yang sudah diakui oleh Islam . Kepemilikan bersifat pribadi dan umum harus memiliki upaya – upaya tersendiri untuk memeperolehnya. Sumber logistik dakwah dapat berupa sedekah, zakat, dan wakaf  dari jalur pemberian/ pembelian. Tidak hanya barang/ jasa saja yang bisa diguakan untuk pengadaan logistik dakwah, uang juga bisa digunakan untuk pengadaan logistik dakwah. Dikatakan pengadaan logistik dakwah itu dikarenakan proses ini ada kaitannya dengan kegiatan dakwah yang bertujuan untuk mendapatkan pahala dari ALLAH SWT[12].
Dalam persewaan, barang yang disewakan bukan menjadi pemilik penyewa, melainkan pemilik orang yang menyewakan. Penyewa hanya bisa menggunakan nilai guna barang tersebut. Aplikasi untuk kegiatan dakwah adalah bahwa pendakwah menyewakan barang/ jasa untuk logistik dakwah. Hal yang perlu diperhatikan untuk persewaan tersebut adalah ketidakmampuan pendakwah untuk membelinya, sedangkan kegunaan jasa tidak terlalu penting, bahkan bersifat insidental.
Disamping untuk konsumsi dakwah, persewaan juga bisa dijadikan alternative investasi. Keuntungan yang diperoleh dari hasil persewaan di gunakan untuk kegiatan dakwah, sedangkan status pemilik barang tetap sebagai wakaf, sedekah, atau pemilik pendakwah. Karena aman dari pergantian pemilik, mka investasi persewaan paling diminati oleh para pendakwah maupun pengurus lembaga dakwah. Dan ada penyebab gagalnya dakwah yaitu: 
1. Diam setelah bergerak
2. Berlebihan
3. Bangga diri
4. Takut
5. Pamer
Dengan demikian pengadaan logistik dakwah bisa bertujuan untuk alat mencapai tujuan yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Dan salah satu unsur penting untuk menyapai tujuan itu sendiri, pengadaan logistik dakwah harus memiki organisasi dakwah agar membentuk proses logistik dakwah yang terencana, terorganisasi, dan mempunyai manajemen yang baik demi tercapainya tujuan yang bermanfaat dan maksimal[13].
Untuk mencapai tujuan dakwah itu sendiri, yaitu menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Dalam hal ini Allah SWT berfirman:
وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ أُولَٰئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
 Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.(Q.S.At-Taubah [9] : 71)[14].
   Pengadaan logistik dakwah dapat memberikan manfaat untuk memenuhi kebutuhan sarana dalam berdakwah, dan dapat juga mendukung kegiatan dakwah. Dalam kegiatan dakwah terdapat juga sistematika metode dakwah. Sistematika dakwah itu dirinci menjadi beberapa istila. Diantaranya dakwah dengan ucapan, dengan tulisan, dengan tindakan serta tukar pikiran. Sistematika metode dakwah itu diterapkan dalam dakwah Rasulullah. Oleh karena itu kita sebagai umat muslim harus mengikuti ajaran Rasulullah dengan sebaik- baiknya.[15]
   Zakat dan shadakah sebagai sumber logistik dakwah itu mempunyai arti tersendiri. Istilah shadakah lebih luas maknanya dari zakat, karena istilah zakat itu adalah bagian dari komponen shadakah. Shadakah bisa dilaksanakan kapan pun sedangkat zakat ada ketentuan tersendiri. Shadakah juga ada dua macam yaitu shadakah immaterial dan materialis. Shadakah immaterial itu contohnya mengucapkan kalimat thoyibah. Sedangkan shadakah materialis itu contohnya qurban, hadiah, wakaf, infaq, dan lain- lain. Perbedaan ini bertujuan untuk membedakan nilai sesuatu yang diberikan seseorang dalam bentuk, ukuran, jumlah, waktu, tempat, dan lain- lain[16].
   Dalam sebuah kegitan apapun itu konsepnya modal sosial juga menjadi unsur terpenting untuk menjalankan kegiatan yang dilakukan, karena modal sosial menjadi penentu berkembangnya segala sesuatu. Dalam berdakwah juga menerapkan sosial itu sangat juga sangat penting[17].
Modal pun tidak cukup, kita harus mempelajari ilmu sosial dasar juga. Ilmu sosial dasar merupakan ilmu yang mempelajari tentang konsep- konsep yang dikembangkan untuk memahami masalah sosial yang ada di sekitar lingkungan kita[18]. Jadi Dapat disimpulkan pengadaan logistik dakwah dapat dikaitkan dengan ilmu dakwah, sejarah dakwah, ilmu sosial, dan lain sebagainya.

D.    Perawatan  dan Pemanfaatan Logistik Dakwah

Dipandang dari sudut perawatan, logistik dakwah dapat dibagi menjadi dua, yaitu:
1.      Perawatan kuratif : upaya merawat logistik dengan membenahinya bila ada suatu masalah.
2.      Perawatan preventif : upaya antisipatif atas sebuah benda/barang dari kerusakan, kotoran, dan penyusutan. Upaya perawatan preventif membutuhkan analisa prediktif tentang keadaan barang. Setiap barang pasti mengalami kerusakan maupun penyusutan dalam jangka tertentu, tergantung dari pemakaian dan perawatan.

Dalam pemanfaatan logistik dakwah, ada satu kepentingan yang harus dipenuhi terlebih dahulu, yaitu kebaikan umum untuk umat manusia ( al-mashlahah al-‘ammah ). Kaidah fikih yang mengajari kebijakan ini adalah “ kebijakan pemimpin atau pejabat atas rakyat harus diorientasikan untuk umum ( tasharruf al-imam ‘ala al-ra’iyyah manuth bi al-mashalahah ) “ dan “ kebaikan yang bermanfaat untuk orang banyak lebih utama dari pada kebaikan yang bermanfaat untuk orang orang terbatas ( al-khair al-muta’addi afdlal min al-qashir ) “. Kaidah yang kedua ini dapat dikatakan sebagai penjelasan dari kaidah yang pertama. Maksudnya, dalam perencanaan logistik dakwah perlu uraian mengenai penggunaannya untuk kebaikan ( al-mashlahah ). Ukuran kebaikan ini adalah pemanfaatan seluas-luasnya, selama-lamanya, dan sebanyak-banyaknya: suatu ukuran utilitarianisme.
Pemanfaatan seluas-luasnya berarti penggunaan logistik dakwah tidak terbatas selama dalam koridor dakwah islam. Makna luas juga dapat ditemukan pada distribusi zakat kepada delapan golongan (fakir, miskin, gharim, riqab, mualaf, fisabillah, ibnu sabil, amil zakat). [19]
Pemanfaatan selama-lamanya mengacu pada hukum wakaf. Dalam pasal 215 ayat 1 kompilasi hukum islam, wakaf ialah perbuatan hukum seseorang atau badan hukum yang memisahkan dan melembagakannya untuk selama-lamanya guna kepentingan ibadah atau keperluan umum lainnya sesuai dengan ajaran Islam, sedangkan dalam undang-undang nomor 41 tahun 2004, wakaf ialah perbuatan hukum wakif untuk memisahkan sebagian harta benda miliknya untuk dimanfaatkan selamanya atau untuk jangka waktu tertentu sesuai dengan kepentingannya guna keperluan ibadah dan kesejahteraan umum menurut syariah. Allah SWT berfirman :

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS.An-Nahl [16] :97). [20]
Pemanfaatan sebanyak-banyaknya mengarah pada sasaran pengguna logistik dakwah. Di era globalisasi dan era informasi seperti sekarang ini diperlukan penerapan dakwah yang dapat menjangkau dan mengimbangi kemajuan-kemajuan yang ada. Dalam kemajuan teknologi dan komunikasi informasi ini, selain membawa nilai-nilai yang positif, juga membawa nilai-nilai negatif yang dapat mempengaruhi pola pikir dan perilaku seseorang melalui media; orang, bangsa, dan negara bisa saling melihat dan berinteraksi dalam banyak hal sehingga akan terjadi saling berpengaruh. Dengan demikian, dalam hingar bingar kemajuan teknologi komunikasi informasi media massa dan peranan dalam mempengaruhi masyarakat, patut mendapat perhatian dan dikaji secara berkesinambungan.[21]

E.     SUMBER LOGISTIK DAKWAH

1.      Infaq
Infaq adalah mengeluarkan harta  yang mencakup zakat dan nonzakat, infaq ada yang sunnah dan ada pula yang wajib. Yang dimaksud infaq wajib ialah zakat, kafarat, dan lain-lain. Sedangkan infaq sunnah seperti menginfaqan hartanya kepada fakir miskin, infaq bencana alam, dan lain-lain[22]. Infaq bukan sumber logistik yang utama tetapi merupakan salah satu sumber dana dalam kegiatan dakwah. Firman Allah SWT:
وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
Dan infaqanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (Q.S Al-Baqarah [02] : 195)

2.      Shodaqoh
Shodaqoh adalah memberikan sebagian harta yang dimiliki kepada orang lain secara sukarela dan ikhlas semata-mata mengharapkan pahalal dari Allah SWT[23]. Firman Allah SWT:
وَمَا تُنْفِقُونَ إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ ۚ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُونَ
Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan dianiaya (dirugikan). (Q.S.Al-Baqarah[02]: 272).

3.      Hadiah
Hadiah adalah memberikan sesuatu tanpa ada imbalannya dan dibawa ke tempat orang yang akan diberi karena hendak memuliakannya.

4.      Hibah
Hibah adalah memberikan harta kepada orang lain tanpa mengharapkan balasan apa-apa. Sama halnya di dalam logistik dakwah seseorang memberikan sebagian hartanya untuk keperluan berdakwah[24].

5.      Bantuan
Bantuan atau kerja sama adalah sumber logistik dakwah yang besar dalam bentuk uang ataupun barang. Seperti pengurus sebuah majlis merekrut beberapa perusahaan untuk menjadi donatur tetap.


BAB II

PENUTUP

 


Kesimpulan yang dapat diambil dari makalah ini adalah bahwa dalam proses berdakwah bukan hanya metode dakwah, stategi dakwah, pesan dakwah saja yang harus diperhatikan. Logistik dakwah juga sangat penting didalam pelaksanaan berdakwah. Karena dengan adanya logistik dakwah maka dakwah bisa berjalan sesuai tujuan yang ingin dituju.









DAFTAR PUSTAKA



Al-Ghamidi, Abdullah bin Ahmad Al-Alaf. Kiprah Dakwah Muslimah. Solo: Pustaka Arafah. 2008.
Al-Maliki, Muhammad bin Alwy. Dakwah-dakwah yang Paling Mudah. Gresik: Putra Pelajar. 1999.
An-Nabiry, Fathul Bahri. Meniti Jalan Dakwah Bekal Perjuangan Para Da’i. Jakarta: AMZAH, 2008.
Aripudin, Acep. Dakwah Antarbudaya. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 2012.
Aziz, Moh Ali. Ilmu dakwah. Jakarta: Kencana. 2004.
Badruttamam, Nurul. Dakwah Kolaboratif Tarmizi Taher. Jakarta: Grafindo Khazanah Ilmu. 2005.
Cholil, Sutikno. Ilmu Alamiah Dasar Ilmu Sosial Dasar Ilmu Budaya Dasar. Surabaya: UINSA. 2013.
Fakultas dakwah IAIN Sunan Ampel Surabaya. Konsep Modal Sosial dan Revelasinya bagi Pengembangan Masyarakat. Jurnal Ilmu Dakwah. Vol 12 No 2. 2005.
Ismail, Ilyas. Filsafat Dakwah. Jakarta: Kencana. 2013.
Kafie, Jamaluddin. Psikologi Dakwah. Surabaya: Indah Surabaya. 1993.
Khamzah, Muhammad. Fiqih kelas 10. Sragen: Akik Pustaka. 2016.
Mustofa, Kurdi. Dakwah Dibalik Kekuasaan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 2012.
Najamudin. Metode Dakwah Menurut Al-Quran. Yogjakarta: Pustaka Insan Madani. 2008.
Pirol, Abdul. Komunikasi dan Dakwah Islam. Yogjakarta: Deepublish. 2018.
Rubba, Sheh Sulhawi. Warna-Warni Islamisasi Serpihan Sejarah Dakwah. Surabaya: UINSA PRESS. 2019.
Sari, Elsi Kartika. Pengantar Hukum  Zakat dan Wakaf. Yogyakarta: CV Budi Utama. 2018.
Sholihin, Ahmad Ifham. Buku Pintar Ekonomi Syariah. Ebook Gramedia. Diakses tanggal 1 September 2019, dari ebook gramedia.
Sutarman. Dasar-dasar Manajemen Logistik. Bandung: PT Refika Aditama. 2017.
Thoifah, I’anatut. Manajemen Dakwah. Malang: Madani Press. 2015.



[1] Fathul Bahri An-Nabiri, Meniti Jalan Dakwah Bekal Perjuangan Para Da’i(Jakarta: AMZAH, 2008), h. 17.
[2] I’anatut Thoifah, Manajemen Dakwah(Malang: Madani Press, 2015), h.5.
[3] Sutarman, Dasar-dasar Manajemen Logistik (Bandung: PT Refika Aditama, 2017), h.3.
[4] Jamaluddin Kafie, Psikologi Dakwah ( Surabaya: Indah Surabaya, 1993), h.30.
[5] Abdullah bin Ahmad Al-Alaf Al- Ghamidi, Kiprah Dakwah Muslimah( Solo: Putaka Arafah, 2008), h.32.
[6] Acep Aripudin, Dakwah Antarbudaya(Bandung: PT Refika, 2017), h.12.
[7] Nurul Badruttamam, Dakwah Kolaboratif Tarmizi Taher( Jakarta: Grafindo Khazanah Ilmu, 2005), h.98.
[8] Kurdi Mustofa, Dakwah Dibalik Kekuasaan( Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2012), h.95.
[9]Muhammad bin Alwy Al-Maliki, Dakwah-dakwah yang Paling Mudah ( Gresik: Putra Pelajar, 1999),h.12
[10] Moh. Ali. Azziz, Ilmu Dakwah, Cet 6 (Jakarta: KENCANA, 2017), h.370.

[11] Moh. Ali. Azziz, Ilmu Dakwah, Cet 6 (Jakarta: KENCANA, 2017), h.372.


[12] Moh. Ali. Azziz, Ilmu Dakwah, Cet 6 (Jakarta: KENCANA, 2017), h. 373

[13] Najamudin, Metode Dakwah Menurut Al-Quran, ( Yogyakarta: Pustaka Insan Madani, 2008), hh. 26- 27
[14] Najamudin, Metode Dakwah Menurut Al-Quran, ( Yogyakarta: Pustaka Insan Madani, 2008), h.13.
[15] Sheh Sulhawi Rubba, Warna- Warni Islamisasi Serpihan Sejarah Dakwah, Cet 1, ( Surabaya: UINSA PRESS, 2017), h. 7
[16] Sheh Sulhawi Rubba, Warna- Warni Islamisasi Serpihan Sejarah Dakwah, Cet 1, ( Surabaya: UINSA PRESS, 2017), hh. 270- 280

[17] Fakultas dakwah IAIN Sunan Ampel Surabaya, “ Konsep Modal Sosial dan Revelasinya bagi Pengembangan Masyarakat”, jurnal Ilmu Dakwah,VolL.12, No.2 ( Oktober 2005), h. 60
[18] Tim penyusun MKD UIN Sunan Ampel Surabaya, IAD- ISD- IBD, cet 3, ( Surabaya: UINSA, 2013), h. 70
[19] Moh. Ali. Azziz, Ilmu Dakwah, cet 6 (Jakarta: KENCANA,2017),hh. 376-377
[20] Elsi Kartika Sari, Pengantar Hukum Zakat dan Wakaf (Jakarta: PT Grasindo, 2007),hh.56-57
[21] Abdul Pirol, Komunikasi dan Dakwah Islam (Yogyakarta: CV Budi Utama, 2018),hh.66-68
[22] Ahmad Ifham Sholihin, Buku Pintar Ekonomi Syariah (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2013), h. 351
[23] Muhammad Khamzah, Fiqih Kelas 10( Sragen:Akik Pustaka, 2016), h.37-38.
[24] Muhammad Khamzah, Fiqih Kelas 10( Sragen:Akik Pustaka, 2016), h.35.